
|
let me speak ![]() Obey with the Rules ! please be polite mention me I really aprreciate it
| Tragis, nestapa dan sedih rasanya melihat plagiarisme di masyarakat kita. Saat beberapa kompasianer membahas tentang plagiarisme tulisan di kompasiana, ternyata di dunia nyata plagiarisme sudah menghinggapi anak-anak usia sekolah. Bahkan mungkin si anak itu masih bersekolah di sekolah dasar. Kalau seperti ini, mau kemana kemajuan negara kita? Anak saya memang hobi membaca buku anak-anak, novel anak atau cerpen baik di media cetak maupun elektronik. Koleksinya tidak hanya buku cerita tapi juga majalah, buku ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Kini 2 tahun belakangan sedang booming buku hasil karya anak-anak yang penerbitannya dipelopori penerbitan ternama di Bandung. Bandingkan 2 tulisan ini Sampai dirumah, dia tak sabar melahap buku cerita yang dibelinya. Selang beberapa saat dia berteriak menemukan kata-kata yang mirip dengan buku Enid Blyton. “Koq menyontek, harusnya nggak boleh kan” seru dia. Saya memintanya untuk membuktikan hal itu agar tidak asal tuduh. Dia lantas membuka-buka halaman buku yang baru dibelinya. Dalam novel berjudul “Semester Pertama di Malory Towers” cetakan ketiga Gramedia Tahun 1992 (cetakan pertama 1984 dan cetakan kedua 1989) dia buka halaman 239 kemudian dibandingkan buku novel anak-anak Tahun 2011 halaman 133. Di halaman tersebut terdapat kalimat (tidak hanya satu kalimat) sama persis. Padahal novel tersebut berkategori best seller karangan anak umur 11 tahun. Bukti lainnya Belum lagi karangan Enid Blyton sudah 19 tahun atau jauh dari usia si penulis novel. Saya tidak habis pikir apa yang membuat orang melakukan hal ini. Disisi lain, redaktur penerbitan novel anak-anak tersebut rasanya kurang jeli dalam mengedit tulisan. Atau dia tidak cukup banyak mengenal novel anak-anak. Itu baru karangan Enid Blyton yang memang sudah kesohor. Bagaimana dengan karangan pihak lain yang tak dikenal dan dicetak terbatas pada jaman dulu? Akan lebih susah lagi kita bilang bahwa tulisan itu hasil plagiat. Bagi diri saya pribadi, yang memprihatinkan adalah sikap mencontek itu sendiri. Jika sedari anak-anak sudah diajari mencuri ide, gagasan, tulisan orang lain bagaimana kelak dewasa nanti. Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Bila melihat tulisan itu, bagaimana pendapat anda? sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/20/plagiarisme-merasuk-anak-anak/ Label: pengetahuan |